KEPADA SIAPA KOLONIAL INDONESIA MENGABDI? - YONI MANA WUU-NEWS

Breaking

YONI MANA WUU-NEWS

HIDUP UNTUK BERJUANG DAN BERJUANG UNTUK HIDUP

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 13 Maret 2020

KEPADA SIAPA KOLONIAL INDONESIA MENGABDI?



Oleh: Richo Kobogau


Jumlah utang luar negeri Indonesia di erah Presiden Jokowi, cukup melambung tinggi di banding tahun-tahun sebelumnya. Jokowi  melanjutkan tongkat stafet presiden-presiden sebelumnya.

Alasanya, untuk membiayai infrastuktur yang cukup masif belakangan ini yang disebut dengan tol laut, tol darat, dan tol udara, yang sering bangga dan puji-puji oleh sebagian orang Papua.

Jika bicara peminjaman uang,  maka tidak hanya kembalikan  utang, tapi pasti ada bunga yang harus dibayar sesuai batas waktu yang telah ditentukan. Jika waktu pembayaran utang  belum bayar maka, jumlah bunga semakin bertambah, menjadi lebih dari jumlah utangnya.

Utang dalam tahun 2018- 2019 berikut adalah hanya sebagian gambaran sebagian dari utang luar negeri Indonesia:

Jumlah bungga yg harus di dibayar tahun 2018, Rp. 249 Triliun. Sementara, jumlah utangnya: Rp.254 triliun. Bunga di tahun 2019 naik sekitar: Rp.  270 Triliun. Sementara, jumlah utangnya Rp. 347 triliun. 

Laporan Bank  Indonesia, bahwa utang luar negeri pada tahun 2019, kuartel ke dua mencapai Rp.5.602 Triliun (Naik 10,1%) jika dibandingkan kuartel kedua tahun sebelumnya dan  diperkirakan akan naik pada Tahun 2020.

Walaupun jumlahnya terdengar sangat banyak, namun indonesia merasa  kalah lebih jau sedikit dr  lima negara   dengan utang luar negerinya mencapai 414 kuadriliun. Namun faktanya, utang luar negeri tidak perna lunas dari kepempinan satu Presiden ke Presiden.

Lima negara itu sesuai urutan jumlah utang adalah:
Urutan lima, Belanda: US $ 4 triliun (Rp.57 Kuadriliun).
Keempat, Jerman: US $ 5,3 triliun (Rp.75 kuadriliun).
Ketiga, Prancis: US $ 5,36 Triliun (Rp.76 kuadriliun).
Kedua, Ingris: US  $ 8,1 triliun (RP.115 kuadriliun). Dan urutan Pertama,  Amerika: US $ 17,9  triliun (Rp.255 kua driliun).

Pertanyaanya, negara-negara maju ini meminjam uang kepada siap?  Berarti ada yang lebih berkuasa dari negara.

Indonesia gadaikan kekayaan alam di Papua  kepada pemilik uang (kapitalis-iperialis) sekelompok kecil orang yang menjarah dan menguasai negara dan rakyat di dunia.

Melalui partai (mesin politik )mereka masuk menguasi dan mengatur sistem pemerintahan, mengatur undang-undang dan kendallikan negara.

Lalu atas namakan negara, mereka didukung  oleh uang,  itelijen,  diplomasi, militer, teknologi dan sebagainya.

Kolonial indonesia masuk ke Papua dengan dukungan  kapitalis lakukan berbagai strategi dan taktik mengambil alih  wilayah Papua Barat dari Pemerintah Belanda. Kapitalis gunakan kolonial indonesia dijadikan perpanjanga  tangan (boneka)  untuk merampas kekayaan  alam  Papua.

Kepentingan kapitalis itu, indonesia meminjam uang di Bank Dunia, Bank Central Eropa, Bank Asia, dan lembaga keuangan lain  yang merupakan milik para kapitalis itu sendiri.

kemudian uang pinjqman itu diberikan kepada orang Papua dalam bentuk  uang Otonomi Khusus; pinjam uang untuk bangun insprastruktur,  supaya ekploitasi kekayaan alam Papua dengan cepat; mekarkan  kabupaten/kota walaupun tidak memenuhi syarat, supaya mempermuda dan percepat masuknya investasi.

Kepentingan kapitalis itu pulah, hak politik rakyat Papua di rampas, dibunuh, diperkosa, ditangkap, disiksa, dipenjarah dan dibungkam.

Oleh sebab itu, Freeport adalah aktor dan musuh Pokok/utama rakyat Papua Barat.  Dia adalah pintu masuknya kapitalisme di Papua. Freeport adalah pintu masuknya Kolonial dan militer indonesia  di Papua.

BERSATU UNTUK PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT!

GARDA-P
(Baguma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here