VA Safi'i:
Ini hanya pemikiran iseng saya. Artinya, belum tentu benar. Karena belum tentu benar berarti pembaca sekalian tidak perlu menganggapnya, benar.
Masyarakat dunia mulai digaduhkan dengan isu virus corona sejak sekitar 3 bulan lalu, yang muncul di Wuhan, Cina. Kemunculannya hampir bersamaan dengan dibunuhnya seorang jenderal militer Iran, Qasem Soelaimani, yang dibunuh militer Amerika Serikat di ibukota Bagdad, Irak. Selain itu, munculnya corona juga tidak terlepas dari perang perdagangan antara pihak Cina dengan Amerika Serikat.
Dalam hitungan hari, kasus corona Cina telah menjadi pemicu bagi lahirnya krisis kemanusiaan. Data terakhir menyebutkan angka kematian di Cina mencapai lebih dari 3 ribu orang. Dan, satu-satunya negara yang membantu Cina hanyalah Cuba.
Tak lama, virus corona menyebar ke negara-negara lain. Kematian terbesar setelah Cina adalah Italia, lalu disusul Iran dan Jepang. Indonesia sendiri, saat awal mula virus ini muncul, terkesan tidak pusing. Pemerintah Indonesia dan juga oposisinya justru sibuk membuat RUU Omnibus Law.
Krisis kemanusiaan. Banyak negara yang menutup mata dan tidak mau menunjukkan rasa solidaritasnya pada negara lain yang terkena wabah corona. Contoh yang tragis adalah apa yang terjadi di Italia, dimana negara-negara Eropa berpangku tangan. Benua Eropa yang menyebut dirinya sebagai bangsa-bangsa yang beradab ternyata faktanya tidak beradab! Syukurlah, akhirnya "persekutuan para iblis" datang membantu Italia. Mereka adalah dokter-dokter dari 3 negara komunis yakni Cina, Cuba dan Venezuela.
Selain telah menimbulkan krisis kemanusiaan, corona juga telah memicu terjadinya krisis sosial dan ekonomi. Secara umum, perekonomian global dan masing-masing negara menjadi macet. Kemacetan tersebut diakibatkan oleh unsur KEPANIKAN masyarakat yang hampir merata dimana-mana.
Kepanikan yang dilanjutkan dengan model kebijakan LOCKDOWN. Ya, sebuah kebijakan yang intinya memutuskan sebuah negara untuk mengunci dirinya dari dunia luar. Istilah saya adalah MENGALEINASI DIRI sebagaimana yang dikatakan oleh Karl Marx. Ada lokcdown total dan ada lokcdown lokal.
Ada yang menarik dari pengimplementasian kebijakan lokcdown di suatu negara, dimana pemerintahan negara yang bersangkutan menyerukan kepada warganya untuk TIDAK KELUAR RUMAH. Mengapa hal tersebut menarik?
Ambil satu contoh yang terjadi di Indonesia. Negara +62 ini memilih kebijakan "lokcdown malu-malu kucing". Sudah pasti ada alasan yang mendasarinya. Implementasi dari kebijakan tersebut adalah menyuruh warga Indonesia untuk tetap tinggal di rumah, meliburkan sekolah, dan seterusnya. Lalu, apa hubungannya dengan judul "BERBAHAGIALAH, CORONA SEGERA BERLALU!" pada tulisan ini?
Ketika semua warga tinggal di rumah, maka bukan manusianya saja yang istirahat. Alat-alat transportasi juga akan beristirahat. Maksudnya?
Selama ini, pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain tidak terlepas dari alat transportasi (motor, mobil, pesawat, dll). Dan semua alat-alat transportasi tersebut membutuhkan BAHAN BAKAR MINYAK. Ketika orang tidak keluar, alat transportasi juga tidak keluar, artinya BBM tidak keluar.
BBM tidak keluar menunjukkan tempat-tempat yang menjual bensin tidak ada yang membeli. Dengan demikian stok BBM tidak berkurang. Sementara itu, di lokasi-lokasi pengeboran minyak, eksplorasi masih terus berlanjut. Intinya adalah produksi BBM tetap, namun penjualan menurun. Singkatnya, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan mengalami penurunan pendapatan. Otomatis bagi negara yang APBN-nya tergantung pada minyak juga akan mengalami penurunan pendapatan. Masih bingung?
Begini. Bayangkan jika terdapat 1 juta motor yang tidak keluar rumah selama seharian saja, dan jika selama ini sekali keluar memakan 2 liter bensin berarti dalam 1 hari bensin yang tidak terjual sebanyak 2 juta liter. Jika per liter harganya 10 ribu rupiah berarti bensin yang tidak terjual senilai 10 miliar rupiah per hari. Ini baru sepeda motor. Belum mobil, belum kereta api, belum mesin-mesin pabrik dan seterusnya.
Karena itu, beberapa waktu lalu dalam sidang OPEC antara pihak Rusia dengan Arab Saudi terlibat pertengkaran berkaitan dengan topik dampak virus corona terhadap jumlah produksi dan harga minyak dunia.
Sebagaimana kita ketahui, negara konsumen terbesar minyak adalah Cina berkaitan dengan industri manufakturnya serta jumlah penduduknya yang mencapai lebih dari 1,4 miliar jiwa. Disusul kemudian India yang lebih dari 1,3 miliar jiwa, Amerika Serikat yang lebih dari 330 juta jiwa, dan Indonesia yang hampir 270 juta jiwa.
Ya. Virus corona telah mengganggu bisnis minyak. Bisnis minyak berkaitan dengan bisnis-bisnis lainnya. Karena itu, jika kasus corona tidak bisa diselesaikan dengan secepatnya, maka sebuah krisis ekonomi global dan besar akan melanda. Dan itu lebih mengerikan dibanding virus corona itu sendiri.
Agar tidak merugi, kemungkinan besar sebuah skenario global untuk mengakhiri corona akan segera dibuat oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan. Dan, salah satu skenario itu mungkin akan membuat isu corona tiba-tiba menghilang!
---
Bom dia
Selamat pagi
#KaumMerah
🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Tidak ada komentar:
Posting Komentar